Roblox bukan sekadar "permainan", melainkan sebuah platform ekosistem digital raksasa tempat jutaan pengguna menciptakan, membagikan, dan memainkan jutaan dunia virtual. Dengan visual yang tampak ramah anak, Roblox telah menjadi fenomena global. Namun, di balik blok-blok warna-warni dan avatar yang lucu, terdapat realitas yang jauh lebih kompleks dan berisiko.
Seiring meningkatnya popularitas, platform ini mulai mendapatkan sorotan tajam dari para ahli psikologi, pendidik, hingga pemerintah. Di Indonesia sendiri, pada pertengahan 2025, kementerian terkait mulai mengevaluasi keberadaan platform ini karena ditemukan berbagai celah yang membahayakan tumbuh kembang anak. Artikel ini akan mengupas tuntas dampak buruk Roblox dari berbagai sudut pandang.
1. Ancaman Predator Online dan Child Grooming
Masalah paling krusial yang membayangi Roblox adalah keberadaan predator seksual. Sebagai platform sosial dengan fitur chat yang sangat terbuka, Roblox menjadi "ladang perburuan" yang subur bagi pelaku kejahatan.
Manipulasi Identitas: Predator sering kali menyamar sebagai anak seusia korban untuk membangun kepercayaan. Mereka menggunakan bahasa yang relevan dengan tren anak-anak untuk menjebak korban.
Praktik Grooming: Pelaku melakukan proses pendekatan secara perlahan (grooming), sering kali memberikan hadiah berupa mata uang virtual (Robux) untuk membuat korban merasa berutang budi atau terikat secara emosional.
Migrasi ke Platform Lain: Setelah kepercayaan terbentuk, predator biasanya mengajak korban pindah berkomunikasi ke platform yang lebih privat dan minim pengawasan seperti Discord, Snapchat, atau WhatsApp, di mana pertukaran konten eksplisit lebih mudah dilakukan.
2. Paparan Konten Tidak Pantas (User-Generated Content)
Berbeda dengan pengembang gim tradisional yang mengontrol setiap detail konten, konten di Roblox dibuat oleh pengguna (User-Generated Content/UGC). Meskipun ada sistem moderasi otomatis, celah selalu ditemukan oleh pembuat konten nakal.
A. "Condo Games"
Istilah ini merujuk pada ruang-ruang tersembunyi yang dibuat oleh pengguna untuk aktivitas seksual virtual. Meskipun Roblox segera menghapus konten ini setelah ditemukan, ribuan dunia serupa dapat muncul kembali dalam hitungan menit dengan nama yang disamarkan.
B. Kekerasan dan Horor Ekstrem
Banyak permainan di Roblox yang menampilkan kekerasan grafis, simulasi penyiksaan, hingga tema horor psikologis yang tidak sesuai untuk anak di bawah umur. Paparan terus-menerus terhadap kekerasan digital ini dapat menurunkan empati anak dan meningkatkan perilaku agresif di dunia nyata.
3. Eksploitasi Finansial dan Perjudian Terselubung
Ekonomi di dalam Roblox berputar di sekitar Robux. Model bisnis ini menciptakan tekanan psikologis dan finansial yang signifikan bagi pengguna muda.
Tekanan Sosial (Peer Pressure): Memiliki "skin" atau item langka menjadi simbol status. Anak-anak yang tidak memilikinya sering kali mengalami perundungan digital atau merasa terkucilkan, yang mendorong mereka untuk meminta uang kepada orang tua secara obsesif.
Mekanisme Gacha: Banyak permainan menggunakan sistem loot boxes atau keberuntungan untuk mendapatkan item langka. Secara psikologis, ini identik dengan perjudian. Anak-anak diajarkan untuk berspekulasi dengan uang sungguhan demi peluang mendapatkan hadiah digital yang tidak pasti.
Penipuan (Scams): Platform ini dipenuhi dengan situs-situs "Free Robux" palsu yang bertujuan mencuri data akun atau informasi kartu kredit orang tua yang tersimpan di perangkat.
4. Dampak Psikologis dan Gangguan Perkembangan
Penggunaan Roblox yang berlebihan secara konsisten menunjukkan dampak negatif pada kesehatan mental anak.
| Dampak | Penjelasan |
| Kecanduan | Desain permainan yang repetitif dan sistem penghargaan instan memicu pelepasan dopamin berlebih, membuat anak sulit berhenti bermain. |
| Distorsi Realitas | Anak usia dini sering kali kesulitan membedakan antara interaksi virtual dan nyata. Mereka mungkin meniru perilaku kasar atau kosakata tidak sopan yang mereka temui di gim. |
| Gangguan Emosional | Kekalahan dalam permainan atau hilangnya akun akibat hack dapat memicu ledakan kemarahan (tantrum) yang ekstrem, kecemasan, hingga depresi. |
| Penurunan Fokus | Stimulasi visual yang terlalu cepat di Roblox membuat anak bosan dengan aktivitas dunia nyata yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang, seperti membaca atau belajar. |
5. Masalah Keamanan Siber dan Privasi
Laporan keamanan siber tahun 2024-2025 menunjukkan bahwa Roblox menjadi salah satu target utama serangan malware.
Mod dan Cheat Berbahaya: Anak-anak sering mencari cara cepat untuk menang atau mendapatkan item gratis dengan mengunduh aplikasi pihak ketiga. Aplikasi ini sering kali berisi trojan yang dapat mengambil alih kendali perangkat atau mencuri data pribadi.
Pelacakan Data: Meskipun Roblox mengklaim mematuhi aturan privasi anak (COPPA), pengumpulan metadata dan pola perilaku anak untuk kepentingan iklan tetap menjadi area abu-abu yang mengkhawatirkan.
Kesimpulan: Tanggung Jawab Kolektif
Roblox memang menawarkan ruang kreativitas, namun risiko yang menyertainya terlalu besar untuk diabaikan. Larangan total mungkin sulit dilakukan di era digital, namun pengawasan yang sangat ketat adalah kewajiban.
Pesan Penting: Orang tua tidak boleh membiarkan anak bermain Roblox tanpa pengawasan langsung. Fitur Parental Control harus diaktifkan, dan komunikasi terbuka mengenai bahaya orang asing di internet harus dilakukan secara rutin.
